PENDEKATAN PERENCANAAN PENDIDIKAN
Menurut para ahli, ada beragam pendekatan perencanaan pendidikan , yaitu : pendekatan kebutuhan sosial (social demaind approach), pendekatan ketenagakerjaan (manpower appoach), pendekatan untung rugi (cost and benefit approach), dan pendekatan keefektifan biaya (cost effectiveness approach). Berikut ini akan dijelaskan secara singkat keempat pendekatan perencanaan pendidikan tersebut.
1.Pendekatan Kebutuhan Sosial (Social Demand)
Pendekatan social demand adalah pendekatan dalam perencananan pendidikaan yang didasarkan atas tuntutan atau kebutuhan sosial akan pendidikan. Pengertian kebutuhan atau tuntutan sosial itu berwayuh arti dan menyesatkan. Masyarakat yang manakah yang dijadikan ukuran? Lagi pula kebutuhan manakah yang dimaksudkan, sekarang atau masa yang akan datang? Dan masa yang akan datang itu kapan?. Biasanya pengertian kebutuhan sosial itu menunjuk kepada kebutuhan yang brsifat populer. Kebutuhan itu terasa apabila terjadi jurang antara penyediaan dan kebutuhan. Memang kebutuhan itu dapat dipengaruhi oleh pemerintah, memang lebih mudah menaikkan kebutuhan daripada menurunkan kebutuhan masyarakat akan pendidikan. Mengukur kebutuhan sosial akan pendidikan itu sangat sulit, bahkaan kadang-kadang tidak mungkin, kecuali kalau ada wajib belajar dan data demografi (Vembriarto,1985:47).
Menurut Vembriarto (1985:47) ada tiga kritik, terutama dikemukakan oleh ahli-ahli ekonomi terhadap pendekatan social demand yaitu :
a.Pendekatan itu mengabaikan masalah alokasi sumber-sumber dalam skala nasional, dan secara implisit tidak mempersoalkan berapa besar sumber yang diperuntukkan bagi pendidikan, karena beranggapan bahwa penggunaan sumber-sumber bagi pendidikan itulah yang terbaik bagi pembangunan bangsa sebagai keseluruhan
b.Pendekatan itu mengabaikan ciri dan pola kebutuhan manpower yang diperlukan di sektor kehiduan ekonomi, dengan demikian akan cenderung menghasilkan tamatan yang sebenarnya kurang diperlukan, dan justru akan kekurangan jenis tamatan yang sebenarnya sangat dibutuhkan
c.Pendekatan itu cenderung terlalu menjawab tuntutan saja sehingga mengabaikan pertimbangan pembiayaan, dan pemerataan sumber-sumber itu menjadi sedemikian kecilnya, akibatnya ialah turunya kualiatas dan evektivitas pendidikan, yang mana berarti pemborosan.
Perencanaan pendidikan yang menggunakan pendekatan kebutuhan sosial oleh para ahli disebut pendekatan yang bersifat tradisional, karena fokus atau tujuan yang hendak dicapai dalam pendekatan kebutuhan sosial ini lebih menekankan pada:(a) tercapainya pemenuhan kebutuhan atau tuntutan seluruh individu terhadap layanan pendidikan dasar; (b) pemberian layanan pembelajaran untuk membebaskan populasi usia sekolah dari tuna aksara (buta huruf); (c) pemberian layanan pendidikan untuk membebaskan rakyat dari rasa ketakutan dari penjajahan, dari kebodohan,dan dari kemiskinan. Oleh karena itu pendekatan kebutuhan sosial ini biasanya dilaksanakan pada Negara-negara yang baru meraih kemerdekaan dari penjajahan,dengan kendisi masyarakat pribumi yang terbelakang pendidikanya dan kondisi sosial ekonomiannya.
Jika pendekatan ini dipergunakan, maka tugas para perencana pendidikan harus memperkirakan kebutuhan pada masa yang akan datang dengan menganalisa (Udin & Makmur, 2005:235):
a.Pertumbuhan penduduk
b.partisipasi dalam pendidikan(yakni dengan menghitung prosentase penduduk yang bersekolah )
c.arus murid dari kelas satu kekelas yang lebih tinggi dan darin satu tingkat ketingkat pendidikan yang lebih tinggi
d.pilihan atu keinginan masyarakat dari individu tentang jenis-jenis pendidikan.
Mengukur social demand sangat sukar dan sering tidak mungkin, kecuali kewajiban belajar ada bersama-sama dengan data demografi yang baik tentang kelompok usia yang relevan (biasanya terdapat pada negara-negara berkembang dan tidak di semua negara yang sedang berkembang). Untuk mendapatkan ukuran yang agak baik tentang demand rupanya memerlukan pengumpulan atau pencatatan dari rumah ke rumah dalam beberapa hal.
Target regional UNESCO yang ditunjukkan mula-mula merupakan suatu gambaran yang betul-betul baik tentang pendekatan social demand. Metode yang dipergunakan pada dasarnya sangat sederhana meskipun sebenarnya bukanlah suatu hal yang mudah untuk mendapatkan faktor yang pokok dan untuk melaksanakannya. Langkah pertama mengumpulakn perkiraan-perkiraan terbaik yang dapat diperoleh tentang jumlah anak-anak dengan umurnya di setiap negara yang ada dalam suatu region dan berapa diantaranya yang sudah bersekolah di sekolah dasar., sekolah menengah, dan peguruan tinggi. Dengan cara ini dapat diperoleh rata-rata anak yang aktif bersekolah di saat itu. Langkah berikutnya mengadakan proyeksi populasi anak untuk setiap umur dampai dengan tahun 1980-an. Langkah ketiga memilih beberapa target rata-rata anak yang bersekolah untuk tahun 1980, umpamanya, dan tahun-tahun diantaranya dan menyesuaikan dengan proyeksi populasi, untuk menentukan target enrollment.
Langkah ketiga ini merupakan langkah yang paling membutuhkan daya upaya dan kemampuan berfikir, karena ia memerlukan kebijaksanaan atau menggunakan banyak faktor, seperti pendidikan yang bagaimana yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat, bagaimana membiayainya, apakah faktor ekonomi dapat membantunya, berapa tenaga terdidik yang dibutuhkan dan berapa lapangan kerja tersedia, berapa bantuan luar negeri, yag dapat diperoleh dan sebagainya. Beberapa asumsi perlu ditetapkan sebagai usaha melengkapi beberapa data/fakta yang sukar diperoleh. Salah satu asumsi yang paling penting adalah bahwa demand terhadap pendidikan akan terus meningkat lebih cepat daripada supply-nya. Yang lain adalah bahwaunit cost pendidikan akan tetap sama (Timan, 2004:16).
Menurut Arifin (2010), ada beberapa kelebihan dan kekurangan penggunaan pendekatan ini dalam perencanaan pendidikan. Di antara sisi positif pendekatan ini antara lain:
a.pendekatan ini lebih cocok untuk diterapkan pada masyarakat atau Negara yang baru merdeka dengan kondisi kebutuhan sosial, khususnya layanan pendidikan masih sangat rendah atau masih sangat banyak yang buta huruf
b.pendekatan ini akan lebih cepat dalam memberikan pemerataan layanan pendidikan dasar yang dibutuhkan pada warga masyarakat, karana keterbelakangan dibidang pendidikan akibat penjajahan, ssehingga layanan pendidikan yang diberikan langsung bersentuhan dengan kebutuhan sosial yang mendasar yang dirasakan oleh masyarakat.
Sedangkan sisi kelemahan pendekatan kebutuhan sosial,ini antara lain:
a.pendekatan ini cenderung hanya untuk menjawab persoalan yang dibutuhkan masyarakat pada saat itu, yaitu pemenuhan kebutuhan atau tuntutan layanan pendidikan dasar sebesar-besarnya, sehingga mengabaikan pertimbangan efisiensi pembiayaan pendidikan
b.pendekatan ini lebih menekankan pada kuantitas sehingga kurang memperhatikan kualitas dan efektifitas pendidikan, oleh karena itu pendekatan ini terkesan lebih boros
c.pendekatan ini mengabaikan ciri-ciri dan pola kebutuhan man power yang diperlukan di sektor kehidupan ekonomi, dengan demikian hasil atau outputpendidikan cenderung kurang bisa memenuhi tuntutan kebutuhan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terkini
d.pendekatan ini lebih menekankan pada aspek pemerataan pendidikan (dimensi kuantitatif) dan kurang mementingkan aspek kualitatif. Disamping itu pendekatan ini kurang memberikan jawaban yang komprehensif dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan, karena lebih menekankan pada aspek pemenuhan kebutuhan sosial, sementara aspek atau bidang kehidupan yang lain kurang diperhatikan.

2.Pendekatan Ketenaga Kerjaan (Manpower Approach)
Pendekatan ini lebih menekankan pada pendayagunaan tenaga kerja hasil suatu sistem pendidikan. Dengan demikian perencanaan pendidikan yang menggunakan pendekatan terhadap rekrutmen ketenagakerjaan akan mengidentifikasikan mengenai besarnya kebutuhan tenaga kerja untuk suatu kurun raktu tertentu. Perlu diperhatikan pula bahwa perhitungan kebutuhan tenaga kerja sesuai dengan lapangan kerja yang tersedia maupun yang akan tersedia tidak lepas dari faktor kulaitas yang diharapkan. Semuanya ini mempunyai implikasi bahwa seorang perencana pendidikan setidak-tidaknya dapat memprediksi kemungkinan-kemungkinan perkembangan baik secara kulaitas maupun secara kuantitas, terutama menyangkut sector-sektor ekonomi dengan pendistribusian okupasi-okupasi yang dapat diproyeksi.
Pendidikan baik dilihat dari dibentuk, isi, dan strukturnya hendaklah dilihat kaitanynya dengan okupasi-okupasi yang diprediksi tersebut. Pendekatan ini banyak digunakan karena dapat menghindarkan terjadinya pemborosan serta pengangguran terdidik pada jangka waktu tertentu. Namun dibalik itu sistem pendidikan yang terlalu ekstrim memperhitungkan kebutuhan tenaga kerja sesuai dengan lapangan kerja sebagai hasil ynag diharapkan dari sistem pendidikan itu, akan cenderung mengakibatkan terjadinya pengangguran tidak terdidik (Effendi, 2000:26).
Pertumbuhan ekonomi tidak hanya memerlukan sumber dan fasilitas fisik, tetapi juga memerlukan sumber-sumber manusia yang mengorganisasi dan menggunakan fasilitas fisik. Jadi pengembangan sumber manusia melalui sistem pendidikan adalah suatu syarat penting untuk pertumbuhan ekonomi dan suatu investasi yang baik dari sumber-sumber yang langka, dengan menentukan pola dan mutu output pendidikan sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja di bidang perekonomian.
Para pendukung pendekatan manpower mengakui bahwa pendidikan mempunyai tujuan-tujuan penting lainnya disamping menghasilkan tenaga manusia, tetapi tujuan-tujuan tersebut tidak bertentangan satu dengan yang lain. Permasalahan yang timbul diselesaikan oleh perencana-perencana pendidikan dengan mempertimbangkan tujuan-tujuan tersebut bersama-sama dengan pertimbangan manpower, tetapi hal ini mengkaburkan dan kurang memuaskan (Timan, 2004:17).
Pendekatan ini mengutamakan kepada keterkaitan lulusan sistem pendidikan dengan tuntutan terhadap tenaga kerja pada berbagai sector pembangunan seperti sector ekonomi, pertanian, perdagangan, dan industri. Tujuan yang akan dicapai adalah bahwa pendidikan itu diperlukan untuk membantu lulusan memperoleh kesempatan kerja yang lebih baik hingga tingkat kehidupannya dapat diperbaiki melalui penghasilan sangat appealing karena dikatkan langsung dengan usaha pemenuhan kebutuhan dasar setiap orang. Karena itu tekanan utama adalah relevancy program pendidikan dengan berbagai sector pembangunan dilihat dari pemenuhan ketenagaan.
Pendidikan kejuruan dan teknologi baik pada tingkat menengah maupun tingkat universitas merupakan prioritas. Untuk memenuhi tuntutan relevancy seperti disebutkan di atas, kurikulum dikembangkan sedemikian rupa hingga lulusan yang merupakan output sistem pendidikan siap pakai di lapangan. Implikasi dari pendekatan ini adalah pendidikan harus diorientasikan kepada pekerjaan yang mungkin diperlukan di pasaran kerja. Jenis pekerjaan, tingkat, atau level pekerjaan, persyaratan kerja, mobilitas kerja harus dijabarkan hingga educational attainment cocok dengan karakteristik berbagai persyaratan kerja di atas (Udin & Makmur, 2005:240).
Pendekatan manpower ini disukai oleh ahli-ahli ekonomi. Dasarnya ialah bahwa pertumbuhan ekonomi itu merupakan dorongan bagi pembangunan bangsa secara keseluruhan, sebab itu harus dijadikan dasar pertimbangan dalam alokasi sumber-sumber. Pertumbuhan ekonomi tidak saja memerlukan sumber dan fasititas fisik, melainkan juga manusia untuk mengorganisasi dan menggunakan semuanya itu. Perkembangan sumber-sumber manusia melalui sistem pendidikan itu penting untuk pertumbuhan ekonomi, sebab itu investment yang baik menuntut diselenggarakannya pola dan kualitas hasil pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan manpower yang diperlukan oleh kebutuhan ekonomi (Vembriarto, 1985:47).
Menurut Arifin (2010) ada beberapa kelebihan dan kelemahan dari perencanaan pendidikan yang menggunakan pendekatan ketenagakerjaan. Pertama, beberapa kebaikan dari pendekatan perencanaan pendidikan ketenagakerjaan, antara lain:
a.proses pembelajaran atau layanan pendidikan di satuan pendidikan mempunyai aspek korelasional yang tinggi dengan tuntutan dunia kerja yang dibutuhkan masyarakat
b.pendekatan ini mengharuskan adanya keterjalinan yang erat antara lembaga pendidikan dengan dunia usaha dan industri, hal ini tentu sangat positif untuk meminimalisir terjadinya kesenjangan antara dunia pendidikan dengan dunia industri-usaha.
Kedua, beberapa kelemahan dari pendekatan perencanaan pendidikan ketenagakerjaan, antara lain:
a.mempunyai peranan yang terbatas terhadap perencanaan pendidikan, karena pendekatan ini telah mengabaikan peran sekolah menengah umum, dan lebih mengutamakan sekolah menengah kejuruan untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja. Dalam realitasnya masih banyak lulusan sekolah menengah kejuruan yang menganggur (output-nya tidak terserap di dunia kerja)
b.perencanaan ini lebih menggunakan orientasi, klasifikasi, dan rasio antara permintaan dan persediaan
c.tujuan utamanya untuk memenuhi tuntutan dunia kerja, sedangkan disisi lain tuntutan dunia kerja selalu berubah-ubah (bersifat dinamik) begitu cepat, sehingga lembaga pendidikan kejuruan sering kurang mampu mengantisipasinya dengan baik.
3.Pendekatan Keefektifan Biaya (Cost Effectiveness)
Pendekatan ini sering digunakan dalam menganalisis program-program yang berhubungan dengan institusi atau lembaga-lembaga tertentu. Proyek-proyek pendidikan cocok menggunakan teknik ini terutama dalam mengkomperasikan biaya dan kefektifan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan. Dengan pendekatan ini, maka fungsi utama dari perencanaan pendidikan berusaha mengadakan assesmen tentang efektivitas dengan jalan menentukan hubungan antara tujuan-tujuan pendidikan yang diharapkan dengan hasil yang dicapai oleh proyek-proyek pendidikan itu. Dapat disimpulkan bahwa pendidikan ini sangat cocok diaplikasikan pada tingkat mikro.
Pendekatan-pendekatan yang digunakan perencanaan pendidikan yang dapat merupakan pengkombinasian antar beberapa pendekatan. Hal ini oleh karena perencanaan sistem pendidikan yang begitu dengan sifat kualitatif, normatifnya itu memerlukan pengkajian yang cermat dan komprehensif (Effendi, 2000:28).
Prinsip cost benefit adalah suatu aplikasi rasional individual tatkala memutuskan bagaimana cara terbaik membelanjakan uangnya sewaktu keinginannya melampaui kemampuannya. Ia mempelajari alternative-alternatif yang ada, menhitung cost setiap alternative, dan merumuskan kegunaan setiap alternative kemudian menetapkan alternative tertentu yang mempunyai rasio benefit tertinggi terhadap cost-nya.
Kesulitan praktis dalam mengukur cost dan benefit ini lebih berat dari kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh teknik social demand dan man power. Mengukur cost dan benefit di lingkungan sistem pendidikan lebih sukar daripada menghitung cost dan benefit untuk pabrik baja, irigasi, atau pabrik pupuk. Penganut pendekatan ini, yang kemudian menamakan dengan pendekatan rate of return berusaha keras pantang mundur untuk mengadakan studi di beberapa Negara yang berbeda-beda.
Salah satu kelemahan dan kritik khusus adalah masalah the estimated income forgone by student yang dimasukkan ke dalam perhitungan biaya, terutama di Negara-negara yang dilanda masalah pengangguran. Kelemahan yang lebih serius berhubungan dengan perhitungan keuntungan di masa yang akan datang. Cara yang biasanya dipergunakan adalah menghitung perbedaan life time earning setiap orang yang merupakan akibat dari pendidikan yabng diperolehnya, dikurangi dengan persentase yang dibuat sebagai ganti dari sebab-sebab nonpendidikan terhadap pendapat ini. Tetapi perbedaan pendapat di masa yang akan datang, sehubungan dengan berbagai perbedaan pendidikan dihitung atas dasar perbedaan masa lampau dan masa sekarang. Secara implisit asumsinya akan tetap menjadi konstan di kemudian hari. Hal ini merupakan suatu asumsi yang sangat membingungkan. Begitu pula pendapatan pribadi yang merupakan hasil dari tambahan pendidikan digunakan sebagai ukuran keuntungan pribadi. Pendapatan pribadi yang sama juga digunakan sebagi ukuran yang menentukan keuntungan sosial yang oleh beberapa kritikus dianggap sebagai loncatan yang agak besar. Salah satu asumsi yang menopang di belakang metode perhitungan social benefit ini adalah rata-rata perbedaan upah dan gaji yang merupakan refleksi yang tepat dari produktivitas ekonomi relative dari orang-orang yang berbeda (Timan, 2004:19).
Walaupun pendidikan dasar sendiri tidak dipertimbangkan sebagai persiapan untuk kerja, beberapa studi rate of return telah mencapai kesimpulan yang sama, yaitu bahwa hasil ekonomi pendidikan dasar di negara-negara tersebut lebih tinggi dari hasil pendidikan universitas. Seandainya kelemahan ini dapat ditanggulangi, masih akan tetap ada masalah yaitu bahwa pendekatan rate of return hanya memberikan sebagian saja dari kebutuhan perencanaan dann decision maker sebagaimana yang diinginkan. Pendekatan ini memberi penjelasan tentang arah untuk menempatkan sumber-sumber (modal) untuk mendapatkan hasil yang terbaik, tetapi hasil memberi penjelasan sejauh mana kita pergi pada arah ini.

About these ads