Bantengan
Bantengan merupakan sebuah kesenian khas jawa. Kostum bantengan biasanya terbuat dari kain hitam dan topeng yang berbentuk kepala banteng yang terbuat dari kayu. Bantengan ini selalu diiringi oleh sekelompok orang yang memainkan musik khas bantengan dengan alat musik berupa gong, kendang, dan lain-lain. Kesenian ini dimainkan oleh dua orang laki-laki, satu di bagian depan sebagai kepalanya, dan satu di bagian belakang sebagai ekornya. dan biasanya, lelaki bagian depan akan kesurupan, dan orang yang di belakangnya akan mengikuti setiap gerakannya. Tak jarang orang di bagian belakang juga kesurupan. tetapi, sangat jarang terjadi orang yang di bagian belakang kesurupan sedangkan bagian depannya tidak. bantengan dibantu agar kesurupan oleh orang (laki-laki) yang memakai pakaian serba merah yang biasa disebut abangan. Bantengan juga selalu diiringi oleh macanan. kostum macanan ini terbuat dari kain yang diberi pewarna (biasanya kuning belang oranye), yang dipakai oleh seorang lelaki. macanan ini biasanya membantu bantengan kesurupan dan menahannya bila kesurupannya sampai terlalu ganas. namun tak jarang macanan juga kesurupan. bantengan dan macanan selalu tak pernah absen meramaikan karnafal tujuh belas agustus. jika mereka kesurupan sampai tak kuat meneruskan karnafal, maka ada orang yang menggantikannya. penggiat budaya kesenian bantengan banyak tersebar di daerah sekitar Pegunungan Arjuno-Welirang, Anjasmoro,Bromo-Tengger-Semeru dan Pegunungan Kawi Jawa Timur.
Gebyak Bantengan Simbol Amukan Alam
Posted on Maret 9, 2008 by brangwetan
BATU – Festival Gebyak Bantengan di Kota Batu kemarin (9/3) berlangsung semarak. Ratusan kelompok bantengan se-Malang Raya ikut andil memeriahkan acara yang baru pertama kali di gelar di Indonesia ini. Mereka menampilkan seni bantengan yang atraktif, serta menegangkan. Bahkan banyak seniman bantengan yang kalap sejak dimulai dari Stadion Brantas menuju balai kota itu.Ketua panitia festival Gebyak Bantengan Nuswantara, Agus Rahmat menyampaikan, festival ini sebagai upaya membangkitkan kembali budaya nusantara khususnya Jawa yang semakin terkikis. Katanya, Gebyak Bantengan ini termasuk kesenian yang unik karena mengandung unsur magis. Malahan, dipercaya mampu mendatangkan seluruh leluhur gunung se-Jawa dan nusantara. “Saat ini mereka hadir semua di Batu,” kata Agus.
Menurut dia, bantengan ini sebenarnya salah satu kesenian yang cukup tua. Sayangnya, kurang diperhatikan sehingga kurang dikenal masyarakat. Di Kota Batu, dia berharap kesenian ini semakin berkembang dan dikenal masyarakat.
Syaifuddin Zuhri, salah satu penggagas gebyak bantengan menyampaikan, festival ini sebagai simbol kemarahan alam yang dirusak manusia. Menurut Gus Udin, sapaan akrab Syaifuddin Zuhri, saat ini hutan yang ada di gunung-gunung sudah pada gundul, sehingga hewan-hewan yang ada di dalamnya seperti banteng, macan dan lainnya turun ke masyarakat. “Kata orang Jawa, kalau ada hewan liar turun dari gunung itu pertanda bahaya,” ujarnya.
Untuk itu, dia mengingatkan kepada semua masyarakat untuk peduli terhadap alam, seperti hutan gunung dan lainnya. Jangan sampai hutan dirusak dan lahannya disewakan atau dijadikan lokasi komersial. Menurutnya, biarkan alam itu seperti wujud asalnya, supaya ekosistem yang ada bisa terjaga. Dengan begitu gebyak bantengan ini juga sebagai simbol protes terhadap banyaknya bencana yang disebabkan oleh ulah manusia.
Wali Kota Batu Eddy Rumpoko yang ikut menyaksikan bantengan ini mengaku bangga dengan semangat para seniman Kota Batu itu. Katanya, ini menunjukkan masyarakat Kota Batu mencintai kesenian yang selama ini tidak dia ketahui. Diapun mengatakan, pemkot akan memfasilitasi kelompok-kelompok kesenian yang ingin mengembangkan kesenian di Kota Batu.
Sementara, festival tersebut juga dihadiri oleh ketua umum Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Wiranto, Presiden LiRa, Jusuf Rizal dan beberapa tokoh lainnya.
Usai menyaksikan festival, Wiranto berharap Gebyak Bantengan Batu ini segera dipatenkan, agar tidak diambil oleh orang lain atau negara lain. ” Jangan sampai kasus Reog Ponorogo terulang,” ujarnya.(lid/abm)

Bantengan: Mengendalikan “Our Animal inside”

Suara gendang bertalu-talu, penonton pun bersuit-suit dan bersorak. Tiga sosok besar banteng hitam berlarian menyeruduk marah ke arah penonton yang menggoda. Orang-orang serta-merta bubar menghindar dari amukan banteng. Dua pengendali pemegang tali-leher banteng bersusah payah mengendalikan setiap banteng yang meliuk liar. Sementara itu seorang pawang memegang cambuk sambil berkomat-kamit mengendalikan unsur magis yang meliputi sang banteng.
Festival kolosal dengan atraksi kejar-kejaran melibatkan “banteng” ini bukan terjadi di Spanyol atau Mexico, namun di sebuah desa di kaki Gunung Semeru Jawa Timur. Yah, Bantengan nama atraksi ini, adalah sebuah kesenian rakyat di wilayah Malang, Jawa Timur. Selain berfungsi menghibur, pertunjukkan ini seolah mengingatkan kepada kita bahwa ada “animal inside” dalam jiwa manusia yang sewaktu-waktu muncul ke permukaan dan bahkan dapat menguasai manusia jika tidak dikendalikan.
Pertunjukkan Bantengan Senin (29/12) ditampilkan oleh pemuda-pemuda Desa Poncokusuma Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang Jawa Timur, sebagai salam perpisahan kepada dua-puluhan mahasiswa Australia yang singgah, menginap (di rumah rumah penduduk) dan belajar bahasa serta budaya di desa ini. Kedatangan mahasiswa Australia dikoordinir oleh Fakultas Humaniora & Budaya Universitas Islam Negeri (UIN) Malang bekerjasama dengan Deakin University, Australia .
Bantengan dimainkan oleh dua penari yang memakai kostum selayak banteng, satu orang di bagian kepala banteng dan satu lagi di bagian belakang. Jadi agak mirip dengan tari barong Bali, atau liong-samsi dalam atraksi barongsai.
Selain dua pemeran banteng, dibantu pula oleh dua pengendali (pemegang tali kendali) agar saat kedua pemeran banteng menjadi “liar”, si banteng dapat dikuasai. Memang dalam pentas ini, sering kali banteng-banteng itu melonjak-lonjak dan menyerbu ke arah penonton yang menggoda si banteng.
Terdapat pula pemusik gendang yang mengiringi tarian banteng. Selain itu, tentu tidak lupa adanya “pawang” banteng yang memegang cambuk. Pawang yang memakai kopiah hitam tinggi ini, menggeletarkan cambuknya hingga bersuara mirip letusan (mirip dengan peran pawang dalam tarian kuda kepang/kuda lumping).
Jika ada pemeran bantengan yang kesurupan, si pawang akan melingkarkan cambuknya ke banteng kesurupan itu dan banteng itu pun akan segera tenang. Permainan ini seringkali di pertunjukkan dengan dua atau tiga bantengan sekaligus, kerap pula membutuhkan lebih dari satu pawang.
Di Desa Poncokusumo, pentas rakyat yang meriah ini setidaknya dipentaskan setahun sekali setiap 17 Agustus. Juga dipentaskan ketika desa penghasil buah apel ini menyambut tamu penting.