Dahsyatnya Ledakan Bom Nuklir
Bom nuklir pernah dijatuhkan oleh Amerika Serikat terhadap kota Hiroshima dan kota Nagasaki, Jepang, pada Perang Dunia II tahun 1945 dengan daya ledak sebesar 20 kilo (ribuan) ton TNT. Kedua kota tersebut luluh lantak rata dengan tanah. Jumlah korban tewas di Hiroshima sekitar 140.000 orang dan di Nagasaki sekitar 80,000 korban tewas. Sejak itu menyusul ribuan korban tewas akibat sakit dan luka-luka karena pengaruh radiasi yang ditimbulkan oleh bom nuklir tersebut.

Sekarang kekuatan bom nuklir bisa mencapai berdaya ledak lebih dari 70 mega (jutaan) ton TNT, setara dengan ribuan kali kekuatan bom nuklir yang dijatuhkan di Jepang. Tidak bisa dibayangkan bagaimana akibatnya dunia ini jika terjadi perang nuklir. Kiamat kah ……. ???
Negara pemilik senjata nuklir yang bisa dikonfirmasi adalah : Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Perancis, China, India dan Pakistan. Selain itu Israel juga dipercaya memiliki senjata nuklir.

Kehancuran dunia dan Kiamat (3) Perang Nuklir
Perang nuklir adalah tidak terbantahkan kenyataannya… Hal yang menyebabkan perang nuklir tidak berlangsung adalah kenyataan bahwa belum ada negara besar yang saling menyerang…
Yang ada negara besar menghancurkan negara kecil yang tidak punya nuklir…

Tapi kesenjangan telah mengemuka… Perang Nuklir sudah di depan mata…. Perang Dingin Amerika Vs Rusia, Cina sudah tak terbantahkan lagi…
Hubungan mereka kian redup…
Saya pernah dengar di Hadis bahwa pada akhir jaman peperangan akan kembali seperti  gaya semula, yaitu pakai pedang dan panah… Saya belum sepenuhnya dapat  merumuskan dengan kenyataan. Tetapi setidaknya pesawat, kapal perang besar, tank akan musnah sebentar lagi. Pangkalan militer akan dinuklir… Kota -kota besar akan habis di nuklir… Pangkalan minyak akan di nuklir, instalasi nuklir akan di nuklir…
Tidak ada minyak untuk peralatan militer besar…
Tidak ada lagi peperangan dengan teknologi cangih, walaupun pakai senjata mesiu masih memungkinkan, oh ya asal tau kalo terjadi perang nuklir tidak akan ada internet lagi… Heheheh jadi sebelum di nuklir saya ada pesan bagimu…

JIKA PEPERANGAN ITU DIMULAI PERGILAH KAMU MENJAUHI KOTA-KOTA BESAR, SEMBUNYILAH DI PEGUNUNGAN TINGGI YANG TERPENCIL, DUNIA TIDAK AMAN… ALLAH BERSAMA UMAT ISLAM.

Penggunaan Nuklir Dukung Kesejahteraan Rakyat

Selasa, 11 November 2008 | 12:16 WIB
JAKARTA, SELASA -Teknologi dan teknik penggunaan nuklir dapat memberikan manfaat dan kontribusi yang sangat besar untuk pembangunan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Misalnya, nuklir dapat digunakan di bidang pertanian, seperti pemuliaan tanaman Sorgum dan Gandum dengan melalui metode induksi mutasi dengan sinar Gamma.

Di bidang kedokteran, teknik nuklir memberikan kontribusi yang tidak kalah besar, yaitu, terapi three dimensional conformal radiotherapy (3D-CRT), yang dapat mengembangkan metode pembedahan dengan menggunakan radiasi pengion sebagai pisau bedahnya. Dengan teknik ini, kasus-kasus tumor ganas yang sulit dijangkau dengan pisau bedah konvensional menjadi dapat diatasi, bahkan tanpa merusak jaringan lainnya.

Di bidang energi, nuklir dapat berperan sebagai penghasil energi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). PLTN dapat menghasilkan energi yang lebih besar dibandingkan pembangkit lainnya, dengan limbah dan biaya operasi yang lebih rendah.

Menurut Deputi Kepala Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) Bidang Pengembangan Teknologi Energi, Nuklir Adiwardoyo, hingga saat ini terdapat dua hambatan serius dalam pengembangan teknologi nuklir.

“Pertama, penerimaan masyarakat terhadap energi nuklir masih kurang. Gambaran tragedi nuklir menjadi salah satu penyebabnya. Kedua, pendanaan. Untuk menggarap proyek besar seperti pembangunan PLTN, dibutuhkan dana yang besar. Hal ini membutuhkan iklim ekonomi yang kondusif sehingga dana investasi asing dapat masuk ke dalam negeri,” ujar Ari pada Seminar Sehari mengenai pemanfaatan energi nuklir, yang diadakan oleh Women in Nuclear (WiN) Indonesia di Gedung Pertemuan Peragaan Sains dan Teknologi Nuklir (Perasten), Jakarta, Selasa (11/11).

Sementara itu, Duta Besar Indonesia untuk Wina Triyono Wibowo, yang juga Wakil Menteri Luar Negeri RI, menekankan bahwa nuklir tidak hanya bersifat penghancur, namun juga berperan sebagai agen perdamaian. Triyono kemudian menjelaskan penggunaan energi nuklir mencuat kembali di akhir era 1990an, seiring dengan melonjaknya harga minyak mentah dunia, meningkatnya permintaan energi global, serta ketidakpastian cadangan energi.

“PLTN dapat menjadi pilihan pembangkit energi yang efisien, serta dapat bertahan hingga lebih dari 50 tahun, dan telah terbukti aman. Selain itu, limbah nuklir ramah lingkungan, dan tidak berdampak pada perubahan iklim” ujar Triyono.

Hal yang sama diungkapkan oleh Presiden WiN Indonesia Trimurni Soedyartomo Soetono. Ia juga menambahkan agar masyarakat tidak perlu takut mengenai limbah isotop yang dihasilkan oleh nuklir. “Limbah nuklir ini merupakan harta karun. Isotop ini nilai ekonominya sangat tinggi. Kita hanya tinggal mencari tahu bagaimana cara memisahkan antara isotop satu dengan yang lainnya, sehingga dapat dipergunakan,” kata Trimurni.
Reaksi nuklir
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Reaksi fusi antara Lithium-6 dan Deuterium yang menghasilkan 2 atom Helium-4.
Dalam fisika nuklir, sebuah reaksi nuklir adalah sebuah proses di mana dua nuklei atau partikel nuklir bertubrukan, untuk memproduksi hasil yang berbeda dari produk awal. Pada prinsipnya sebuah reaksi dapat melibatkan lebih dari dua partikel yang bertubrukan, tetapi kejadian tersebut sangat jarang. Bila partikel-partikel tersebut bertabrakan dan berpisah tanpa berubah (kecuali mungkin dalam level energi), proses ini disebut tabrakan dan bukan sebuah reaksi.
Dikenal dua reaksi nuklir, yaitu reaksi fusi nuklir dan reaksi fisi nuklir. Reaksi fusi nuklir adalah reaksi peleburan dua atau lebih inti atom menjadi atom baru dan menghasilkan energi, juga dikenal sebagai reaksi yang bersih. Reaksi fisi nuklir adalah reaksi pembelahan inti atom akibat tubrukan inti atom lainnya, dan menghasilkan energi dan atom baru yang bermassa lebih kecil, serta radiasi elektromagnetik. Reaksi fusi juga menghasilkan radiasi sinar alfa, beta dan gamma yang sagat berbahaya bagi manusia.
Contoh reaksi fusi nuklir adalah reaksi yang terjadi di hampir semua inti bintang di alam semesta. Senjata bom hidrogen juga memanfaatkan prinsip reaksi fusi tak terkendali. Contoh reaksi fisi adalah ledakan senjata nuklir dan pembangkit listrik tenaga nuklir.
Unsur yang sering digunakan dalam reaksi fisi nuklir adalah Plutonium dan Uranium (terutama Plutonium-239, Uranium-235), sedangkan dalam reaksi fusi nuklir adalah Lithium dan Hidrogen (terutama Lithium-6, Deuterium, Tritium).

Senjata nuklir
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Awan cendawan pengeboman Nagasaki, Jepang, 1945, menjulang sampai 18 km di atas hiposentrum.
Senjata nuklir adalah senjata yang mendapat tenaga dari reaksi nuklir dan mempunyai daya pemusnah yang dahsyat – sebuah bom nuklir mampu memusnahkan sebuah kota. Senjata nuklir telah digunakan hanya dua kali dalam pertempuran – semasa Perang Dunia II oleh Amerika Serikat terhadap kota-kota Jepang Hiroshima dan Nagasaki.Pada masa itu daya ledak bom nuklir yg dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki sebesar 20 kilo(ribuan) ton TNT. Sedangkan bom nuklir sekarang ini berdaya ledak lebih dari 70 mega(jutaan) ton TNT
Negara pemilik senjata nuklir yang dikonfirmasi adalah Amerika Serikat, Rusia, Britania Raya (Inggris), Perancis, Republik Rakyat Cina, India dan Pakistan. Selain itu, negara Israel dipercayai mempunyai senjata nuklir, walaupun tidak diuji dan Israel enggan mengkonfirmasi apakah memiliki senjata nuklir ataupun tidak. Lihat daftar negara dengan senjata nuklir lebih lanjut.

Bentuk bom nuklir yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki
Senjata nuklir kini dapat dilancarkan melalui berbagai cara, seperti melalui pesawat pengebom, peluru kendali, peluru kendali balistik, dan Peluru kendali balistik jarak benua.
BOM NUKLIR NYEMPLUNG/

Kamis, 13 November 2008 | 14:40 WIB
KOPENHAGEN, KAMIS- Otoritas pemerintahan di Greenland, Rabu (13/11), membenarkan laporan BBC yang menyatakan bahwa Amerika Serikat meninggalkan sebuah bom nuklir di bawah lapisan es di kawasan protektorat Denmark itu, menyusul jatuhnya sebuah pembom pada 1968.
Menteri Luar Negeri Denmark Per Berthlesen mengemukakan, Greenland sudah menyadari masalah ini sejak lama. “Tak ada yang baru dalam laporan ini, dan kami tahu sejak lama bahwa salah satu dari empat bom nuklir belum diketemukan menyusul pencarian oleh orang-orang Amerika,” katanya, seraya menambahkan “tak ada risiko” terhadap lingkungan.
Berthlesen menyatakan, pihak berwenang di Greenland mengharapkan tanggapan dari AS dan pemerintah Denmark setelah pembeberan dokumen dari BBC tersebut. Dalam pernyataannya, Greenland mengungkapkan insiden ini telah diselidiki pada 1995.
Dengan memanfaatkan kesaksian dari mereka yang terlibat dan dokumen yang telah dideklasifikasi berdasarkan UU Kebebasan Informasi AS, diperoleh informasi bahwa senjata tersebut tak pernah ditemukan, sekalipun telah dilakukan upaya pencarian secara besar-besaran di lokasi jatuhnya pesawat dekat sebuah pangkalan militer AS di Thule.
Dibangun pada awal dekade 1950-an, Pangkalan Udara Thule merupakan pangkalan sangat strategis AS selama berlangsungnya Perang Dingin antara AS dan Uni Sovyet. Dari pangkalan inilah radar dapat memindai langit untuk mendeteksi berbagai rudal yang meluncur dari Kutub Utara.
Akan tetapi, Washington mencemaskan Sovyet kemungkinan akan menghancurkan pangkalan ini sebagai babak pembukaan serangan nuklir atas AS.
Akibatnya, militer AS menempatkan sejumlah pembom B-52 yang bersenjata nuklir untuk mengadakan patroli di atas pangkalan itu mulai 1960, sehingga mereka dapat langsung menuju Moskow seandainya pangkalan itu dihancurkan, kata jaringan televisi itu.
Namun demikian, pada 21 Januari 1968 salah satu dari pesawat itu jatuh ke lapisan es beberapa kilometer dari pangkalan. Bahan peledak yang melingkupi empat senjata nuklir di pesawat diledakkan, namun peralatan nuklir aktifnya belum, kata BBC.
Para investigator menemukan ribuan pecahan pesawat di lokasi, termasuk es yang mengandung zat radioaktif, namun segera disadari hanya tiga senjata nuklir yang keamanannya dapat dipertanggungjawabkan.
Upaya pencarian di bawah air dilancarkan pada April 1968, namun mereka tak menemukan apapun dan akhirnya mereka menghentikan pencarian.

MSH
Sumber : Ant

Spekulasi cadangan uranium dan masa depan PLTN
29Apr07
Perkembangan energi nuklir hingga tiga dekade mendatang akan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan uranium alam serta besar kecilnya pertumbuhan kapasitas reaktor-reaktor baru di dunia. Dengan teknologi once-through fuel cycle yang digunakaan reaktor-reaktor nuklir yang ada saat ini, bahan bakar yang berupa uranium hanya dimanfaatkan sekali pakai. Konsumsi uranium yang besar tanpa disertai dengan penemuan deposit-deposit uranium baru akan berakibat pada kelangkaan suplai. Pertanyaan utama saat ini adalah kapan kelangkaan suplai tersebut akan terjadi dan apa pengaruhnya terhadap masa depan energi nuklir.

Produksi uranium dunia
Menurut data World Nuclear Assosiation, tahun 2006, sumber daya uranium dunia yang secara ekonomis dapat dimanafaatkan sebesar 4,7 juta ton. Dengan tingkat konsumsi uranium dunia saat ini sebesar 64 kilo ton per tahun, cadangan tersebut bisa bertahan hingga 75 tahun. Namun jika porsi nuklir dalam penyediaan energi listrik dunia dipertahanakan konstan yaitu sekitar 16%, dengan pertumbuhan energi listrik dunia sebesar 2,7% per tahun (World Energy Outlook, 2006), maka diperkirakan umur cadangan uranium hanya akan bertahan hingga 40 tahun.

Hingga saat ini, sudah sebelas negara yang telah kehabisan cadangan uranium. Salah satu negara tersebut adalah Jerman yang tercatat sebagai empat besar di dunia dalam jumlah akumulatif produksi uranium sejak perang dunia kedua.
Saat ini produksi uranium hanya mampu memenuhi 63 persen permintaan dunia. Kekurangan suplai dipenuhi dari cadangan stok yang sebagian besar berasal dari kelebihan produksi sebelum tahun 1980 dan dipakai dalam senjata nuklir pada saat itu. Tidak ada angka pasti mengenai jumlah stok tersebut, namun pada tahun 2005 diperkirakan berjumlah sekitar 210 kilo ton (Energy Watch Group, 2007). Ketimpangan antara suplai dan kebutuhan ini menjadi salah satu faktor kenaikan harga uranium sejak 2001. Bahkan dalam setahun terakhir, harga uranium telah melonjak hampir tiga kali lipat (lihat grafik di bawah). Gejolak harga tersebut mematahkan anggapan selama ini bahwa harga uranium sangat stabil sehingga dapat diprediksi secara pasti.

Apakah ini pertanda dimulainya krisis uranium? Kalangan industri nuklir membantah dugaan ini. Mereka melihat bahwa lonjakan harga uranium justeru akan mendorong eksplorasi yang lebih intensif untuk mendapatkan cadangan-cadangan baru yang selama ini dipandang belum ekonomis.
Yang menjadi persoalan adalah data pertambangan uranium selama ini tidak sepenuhnya bisa diandalkan. Ada kecenderungan perkiraan cadangan uranium meningkat pada saat produksi sedang menanjak. Dan sebaliknya, perkiraan cadangan mengalami penurunan (downgrade) yang tajam ketika produksi sudah mencapai puncak (Energy Watch Group, 2007). Di Perancis misalnya, cadangan uranium pada tahun 1985 diperkirakan sebesar 82 kilo ton. Ketika itu produksi uranium Perancis sedang mengalami peningkatan. Namun kenyataanya, setelah habis dieksplotasi hingga tahun 2002, hanya mampu memproduksi 26 kilo ton. Kasus serupa juga terjadi di industri pertambangan uranium Amerika Serikat.

Pengaruh terhadap biaya pembangkitan
Terlepas dari spekulasi cadangan uranium, gejolak harga tersebut jelas berpengaruh terhadap tingkat kekompetitifan PLTN. Berdasarkan laporan berjudul The Future of Nuclear Power yang dirilis oleh MIT pada tahun 2003, biaya pembangkitan listrik PLTN baru diperkirakan sekitar 5,5 sen Dollar AS per kWh mengunakan asumsi harga uranium 12 Dollar AS per pound (MIT, 2003). Komponen biaya uranium setara dengan 2,2 persen dari biaya pembangkitan listrik saat itu. Harga uranium saat ini yang mencapai 113 Dollar AS per pound diperkirakan menyebabkan pelonjakan biaya pembangkitan lebih dari 20 persen. Padahal sebelum terjadi gejolak harga uranium saja, biaya pembangkitan PLTN sudah lebih mahal dari alternatif lain seperti PLTU dan PLTGU (MIT, 2003; Univ. of Chicago, 2004).

Neraca energi uranium
Diakui bahwa dari tinjauan aspek teknologi dan ekonomi, tingginya harga uranium membuka peluang penemuan deposit-deposit baru dengan kadar bijih yang lebih rendah (low grade ore). Namun selain kedua faktor tersebut, faktor neraca energi juga perlu dipertimbangkan untuk menentukan kelayakan produksi uranium. Storm van Leeuwen dan Smith dalam laporan yang berjudul Nuclear Power – The Energy Balance yang diterbitkan tahun 2005 menyebutkan bahwa semakin rendah kadar bijih uranium maka energi yang dibutuhkan untuk mengekstraknya akan meningkat secara eksponensial. Nilai kritis kadar bijih uranium adalah 0,02 persen. Jika kurang dari itu, sumber daya uranium dianggap tidak layak untuk dieksploitasi karena memiliki neraca energi negatif. Artinya energi yang dibutuhkan untuk mengestrak uranium lebih besar dari energi yang dihasilkan (lihat gambar di bawah). Perlu diketahui bahwa cadangan uranium yang tercatat saat ini sudah termasuk deposit bijih uranium dengan kadar rendah, dengan lokasi yang dalam, transportasi yang jauh dan tingkat kesulitan penambangan yang tinggi. Ini artinya temuan cadangan-cadangan uranium yang baru tidak akan berpengaruh signifikan terhadap umur cadangan uranium dunia.

Sumber: Leeuwen & Smith (2005)
Skenario PLTN pasca uranium
Jika krisis kelangkaan uranium menjadi kenyataan maka masa depan PLTN akan berujung dalam tiga skenario.
Skenario pertama, ketika industri nuklir tidak lagi bisa mendapatkan uranium alam maka reprosesing bahan bakar bekas pakai (spent fuel reprocessing) akan menjadi andalan pemenuhan bahan bakar nuklir. Dalam reprosesing, plutonium dipisahkan dari bahan bakar bekas pakai sebelum digunakan kembali menjadi bahan bakar yang disebut MOX (mixed oxide fuel). Yang menjadi persoalan adalah karena plutonium merupakan bahan utama pembuatan senjata nuklir maka akan berakibat pada meningkatnya ancaman proliferasi senjata nuklir.
Pengawasan material plutonium juga bukan perkara mudah. Pengawasan yang paling ideal-pun hanya mampu mengawasi stok plutonium dengan keakuratan tidak lebih dari 99 persen. Jika volume reprosesing bahan bakar cukup besar, maka dengan memanfaatkan kebocoran sebesar 1 persen saja, dalam hitungan hari akan diperoleh jumlah bahan bahan yang cukup untuk membuat senjata nuklir tanpa sepengahuan operator atau inspektor IAEA (Oxford Research Group, 2007). Dari sisi ekonomi, reprosesing juga masih belum menguntungkan. Teknologi reprosesing diperkirakan 4 kali lebih mahal daripada teknologi once-through fuel cycle (MIT, 2003). Gambaran tingginya biaya reprosesing juga dapat dilihat dari besarnya pembengkakan biaya dekomisioning instalasi reprosesing di Sellafield, Inggris, yang mencapai 70 Milyar Poundsterling (sekitar 140 Milyar Dollar AS).
Skenario kedua, teknologi fast breeder reactor akan muncul sebagai pilihan.Teknologi ini dalam pengoperasiannya mampu menghasilkan bahan bakar lebih banyak dari yang dikonsumsi. Namun sekalipun riset reaktor breeder telah dilakukan kurang lebih setengah abad, hingga kini belum ada bukti bahwa reaktor ini layak secara teknis apalagi ekonomis. Hingga sekarang, baru ada tiga reaktor breeder di dunia yang bisa dikatakan pernah berhasil beroperasi yaitu Monju di Jepang, Beloyersk-3 di Rusia dan Phenix di Perancis. Hanya reaktor di Rusia yang hingga kini masih beroperasi itu pun dengan banyak riwayat kecelakaan selama pengoperasiannya. Patut diketahui bahwa sekalipun didesain sebagai reaktor breeder, tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa ketiga reaktor tersebut mampu beroperasi sebagai breeder (memproduksi bahan bakar). Seandainya semua hambatan teknologi dan ekonomi bisa diatasi, kelihatannya masih diragukan bahwa teknologi ini akan siap secara komersial setidaknya hingga pertengahan abad ini. Sebuah perkiraan yang sangat optimistis berdasarkan road map yang disusun oleh departmen Energi AS bersama sembilan negara lain yang melakukan kerjasama riset dalam teknologi reaktor generasi IV (The Generation IV International Forum) memperkirakan jenis reaktor ini belum akan siap sebelum 2030.
Skenario terakhir, jika reprosesing bahan bakar dan reaktor fast breeder tetap tidak bisa menjawab persoalan kelangkaan uranium maka ini berarti akhir sejarah energi nuklir.
Sekenario mana yang akan terjadi? Semuanya tergantung dari cadangan uranium, kesiapan teknologi fast breeder reactor serta perkembangan politik dunia dalam satu-dua dekade yang akan datang.