PROGRAM KELUARGA BERENCANA (KB) MENURUT PANDANGAN ISLAM
KB termasuk masalah kontemporer sehingga tidak ditemukan bahasannya oleh imam-imam madzhab. Secara umum, hingga kini di kalangan umat islam masih ada dua kubu antara yang membolehkan dan yang menolak KB.
Alasan para ulama yang membolehkan KB:
1.Untuk memberikan kesempatan bagi wanita untuk beristirahat antara dua kehamilan;
2.Jika salah satu atau kedua orang pasangan suami isteri memiliki penyakit yang dapat menularkan;
3.Untuk melindungi kesehatan ibu;
4.Jika keuangan suami tidak mencukupi untuk membiayai lebih banyak anak;
5.Imam Ghazali menambahkan lagi, yaitu untuk menjaga kesehatan ibu.
Pandangan ulama Indonesia tentang KB:
Secara umum lembaga-lembaga fatwa di Indonesia menerima dan membolehkan KB, MUI menjelaskan bahwa ajaran islam membenarkan keluarga berencana. Tetapi, KB dalam pengertian pembatasan jumlah kelahiran hukumnya haram dan dilarang oleh syara’. Mengikuti KB karena takut kelaparan hukumnya juga haram. Jadi, pada dasarnya hukum ber-KB adalah mubah. Namun dalam keadaan tertentu mubah tersebut dapat berubah menjadi sunnah, wajib, makruh, atau haram sejalan dengan perubahan jaman, tempat, keadaan, alasan, dan tujuannya.
Alasan pembolehan KB dari sudut pandangan syar’i yang paling sering dikemukakan oleh para ulama adalah praktek ‘azl. ‘azl adalah melakukan ejakulasi di luar vagina sehingga sperma tidak bertemu dengan ovum isteri. Menurut kalangan yang membolehkannya, bahwa di masa awal islam pada masa penurunan al-Qu’an, tidak ada larangan tentang itu.

Alasan para ulama yang menolak KB:
1.KB sama dengan pembunuhan bayi;
2.KB merupakan tindakan tidak wajar (non alamiah) yang bertentangan dengan fitrah;
3.KB mengindikasikan pada ketidakyakinan akan perintah dan ketentuan Yuhan;
4.KB berarti mengabaikan do’a Nabi agar umat islam memperbanyak jumlahnya;
Menurut para ulama yang membolehkan KB, menggunakan cara atau alat kontrasepsi hendaknya tidak dipaksakan, agar menggunakan alat yang tidak bertentangan dengan hukum syariat islam dan disepakati oleh suami isteri.
Jadi kesimpulannya yang dapat diambil adalah:
1. secara umum KB dapat diterima dalam ajaran islam, sejauh yang dimaksudkan adalah pengaturan keluarga bukan pembatasan keluarga.
2.Secara global ulama berbeda pendapat mengamalkan KB, sebagian mereka membolehkannya dan sebagian yang lain mengharamkannya.
3.Alat kontrasepsi yang dapat diterima menurut penilaian para ulama adalah yang sifatnya menghalangi bertemunya sperma dan ovum, bukan yang bersifat membunuh zygot. Di samping itu, pembolehan menggunakan alat dan cara ber-KB tersebut jika dalam pelaksanaannya tidak bertentangan dengan batasan syar’i.