MODEL PEMBELAJARAN LANGSUNG-DUKUNGAN TEORI BELAJAR SOSIAL

DIRECT INSTRUCTION-SOCIAL LEARNING THEORY SUPPORT

Sejumlah akar-akar sejarah dan teori bergabung bersama-sama menyediakan dukungan dan rasional untuk model pembelajaran langsung. Beberapa aspek dari model pembelajaran langsung sebenarnya berasal  dari prosedur-prosedur pelatihan yang dikembangkan indutri dan militer. Barak Rosenshine dan Robert Stevens(1986), contohnya, melaporkan bahwa mreka menemukan sebuah buku yang dipublikasikan pada tahun 1945 yang berjudul Bagaimana Menginstruksitelah mengandung ide-ide yang berhubungan dengan model pembelajaran langsung. Untuk tujuan kita di sini, bagaimanapun, kita akan mendeskripsikan tiga teori tradisional yang menyediakan rasional untuk penggunaan secara kontemporer model pembelajaran langsung, yaitu: behaviorisme (teori belajar tingkah laku); teori belajar sosial, dan riset-riset tentang kefektifan guru dalam mengajar.

A number of historical and theoretical roots come together to provide the rationale and support for direct instruction. Some aspects of the model derive from training procedures developed in industrial and military setting. Barak Rosenshine and Robert Stevens (1986), for example reported that they found a book published in 1945 entitled How to Instruct that included many of ideas associated with direct instruction. For our puposes here, however, we will decribe three theoretical tradition that provide rationale for contemporary use of direct instruction: behaviorism, social learning theory, and teacher effectiveness research.

Teori Belajar Sosial

Lebih baru, ahli teori seperti Albert Bandura mengajukan bahwa behaviorisme menyediakan pandangan tentang belajar terlalu terbatas, dan telah mengunakan teori belajar sosial untuk menolong mempelajari aspek-aspek belajar yang tak teramati pada cara belajar manusia, seperti berpikir dan kognisi. Teori belajar sosial membuat pembedaan antara belajar (bagaimana cara pengetahuan diperoleh) dan performen (tingkah laku yang dapat diamati). Teori ini juga menyatakan bahwa banyak manusia belajar  melalui pengamatan (observasi) terhadap orang lain. Mengacu pada Albert Bandura, kebanyakan orang belajar dengan melakukan pengamatan secara selektif terhadap perilaku orang lain dan menempatkan hasil pengamatan itu ke dalam memori.

 

Social Learning Theory

More recently, theorist such as Albert Bandura have argued that classical behaviorism provides too limited view of learning, and have used social learning theory to help study the unobservable aspects of human learning, such as thinking and cognition. Social learning theory makes distinctions between learning (the way knowledge is acquired) and performance (the behavior that can be observed). This theory also posits that much of what humans learn comes through the observation of others. According to Albert Bandura, most human learning is done by selectively observing and placing into memory the behavior of others.

Tak seperti para ahli behaviorism, ahli-ahli teori belajar sosial meyakini bahwa sesuatu dapat dipelajari jika si pengamat melakukan pengamatan dengan sungguh-sungguh dan melibatkan pemikirannya terhadap beberapa tingkah laku yang akan dipelajari (misalnya memecahkan soal matematika) dan menempatkan pengamatan itu ke dalam memori jangka panjang (long-term memori). Si pengamat belum menampilkan tingkah laku yang diamati, jadi belum ada konsekuensi-konsekuensi tingkah laku (lihat teori belajar tingkah laku) atau penguatan yang dijaga oleh para behavioris agar proses belajar terus berlangsung. Selanjutnya bila memori telah disimpan, pengamat tahu bagaimana memecahkan soal matematika, tak perduli apakah nanti ia memilih untuk melakukannya dengan cara itu atau tidak. Klaim yang sama dapat dikatakan untuk ribuah contoh tingkah laku lainnya seperti mengerem mobil, makan dengan menggunakan sendok, dan membuka sebuah botol.

Unlike earlier behaviorists, social learning theorists believe that something is learned when an observer consciously attends to some behavior (e.g., striking a match) and then places that observation into long –term memory. The observer hasn’t yet performed the observed behavior, so there have been no behavioral consequences (reinforcements) which behaviorist maintain are necessary for learning to occur. Nevertheless as long as the memory is retained, the observer knows how to strike a match, whether or not he or she chooses to do so. The same claim can be said for thousands of simple behavior such as braking a car, eating with a spoon, and opening a bottle.

Mengacu pada Albert Bandura (1986), belajar dapat diamati dan terdiri dari tiga langkah, yaitu: (1) pebelajar akan memberikan perhatian kepada aspek-aspek penting  dari hal yang akan mereka pelajari; (2) pebelajar telah menyimpan atau mengingat tingkah laku tersebut; dan (3) pebelajar harus bisa mereproduksi kembali atau menampilkan tingkah laku tersebut. Latihan dan rehearsal mental yang digunakan dalam model pembelajaran langsung telah membantu pebelajar memperoleh dan memproduksi tingkah laku yang telah diamatinya. Prinsip-prinsip dari teori belajar sosial diterjemahkan ke dalam tingkah laku yang harus dilakukan guru, yaitu:

  • · Gunakan strategi-strategi untuk memperoleh perhatian siswa.
  • · Yakinkan bahwa tingkah laku yang akan diamati tidak terlalu kompleks.
  • · Hubungkan keterampilan baru itu dengan pengetahuan awal siswa.
  • · Yakinkan suatu tingkah laku positif terhadap keterampilan baru sehingga siswa termotivasi untuk mereproduksi tingkah laku baru.

According to Albert Bandura (1986), observational learning is a three step process: (1) the learner has to pay attention to critical aspects of what is to be learned; (2) the learner has to retain or remember the behavior; and (3) the learner must be able to reproduce or perform the behavior. Practice and mental rehearsals used in direct instruction are processes that help learners retain and produce observed behaviors. The principles of social learning translate into the following teacher behaviors:

  • · Use strategies to gain students’ attention.
  • · Ensure that the observation is not too complex.
  • · Link new skills to students’ prior knowledge.
  • · Use practice to ensure long-term retention.
  • · Ensure a positive attitude toward the new skill so students will be motivated to reproduce or use the new behavior.

Model Pembelajaran Dynamic Group

Aktivitas belajar adalah upaya siswa dalam memahami dan menanggapi lingkungannya. Dalam hal ini, lingkungan merupakan stimulus yang memberikan rangsangan kepada siswa untuk menanggapi dalam cara-cara tertentu. Kegiatan untuk menanggapi ini akan optimal jika didukung oleh adanya kebebasan mengemukakan pendapat yang dapat dilakukan oleh setiap siswa. Dengan kata lain, kebebasan yang dimaksud harus dilaksanakan secara bertanggungjawab, dilandasi akan sehat, niat baik, dan norma yang berlaku di masyarakat.

Demokrasi yang berasal dari Bahasa Yunani, demos yang artinya rakyat dan kratein yang bermakna pemerintahan. Jadi demokrasi adalah pemerintahan yang berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat; Dwiyono A. 2003. Untuk keperluan pembelajaran, pembelajaran berbasis demokrasi adalah teknik pembelajaran dari murid, dan untuk murid. Dalam hal ini pembelajaran lebih ditekankan pada bagaimana membelajarkan siswa dan bukan pada apa yang dipelajari siswa.

Fakta yang telah terjadi bahwa guru melihat dari apa yang telah dipelajari siswa. Cara seperti ini mengakibatkan siswa mengeluh jika dihadapkan pada materi IPA Fisika. Idealnya, untuk dapat memahami suatu konsep fisika diperlukan objek yang konkret dengan melakukan eksplorasi, observasi, manipulasi ide secara mental, dan tidak sekedar hafalan. Dengan demikian penyampaian materi pelajaran perlu dilakukan dengan cara mengajak siswa melakukan sendiri sesuai dengan gaya belajarnya, sehingga ingatannya menjadi lebih abadi daripada mereka dicekoki dengan pengetahuan.

Cara belajar yang mengutamakan belajar dengan mengalami sendiri dan belajar dengan mengerjakan (learning by doing) akan menjadikan siswa memiliki pengalaman dalam menemukan konsep. Sehingga siswa tidak menerima secara mentah pengetahuan yang diberikan guru. Siswa diajak mengikuti proses pengetahuan tentang suatu konsep yang dipelajari secara bertahap dan konstruktif sehingga kondisi pembelajaran tidak lagi berada dalam keadaan dipaksakan. Dalam pembelajaran berbasis demokrasi, sistem pembelajaran ditekankan pada kegiatan yang melibatkan semua siswa dengan menekankan cara berpikir kreatif, kritis dalam mengemukakan pendapat, ide maupun gagasan sesuai dengan gaya belajar yang dimiliki dan keberagaman kecerdasan siswa yang meliputi kecerdasan verbal, matematik, ruang, kinestetik, musikal, kecakapan intrapsikis; Istadi Irawati, 2002.

Gaya belajar seseorang adalah kombinasi dari bagaimana ia menyerap dan kemudian mengatur, serta mengolah informasi. Untuk siswa yang memiliki kecendrungan gaya belajar visual, belajar dilakukan melalui apa yang dilihat. Siswa yang memiliki kecendrungan gaya belajar auditorial, belajar dilakukan melalui apa yang didengar. Siswa yang memiliki kecendrungan gaya belajar visual, belajar dilakukan dengan melalui apa yang dilihat. Siswa yang memiliki kecendrungan gaya belajar auditorial, belajar dilakukan melalui apa yang didengar. Siswa yang memiliki kecendrungan gaya belajar kinestetik, belajar dilakukan dengan gerak dan sentuhan; Hernacki dan Bobbi dePorter, 2002.

Pembentukan dynamic group atau kelompok dinamik pada pembelajaran IPA Fisika menurut Gulo, 2002, memiliki beberapa ciri khusus yaitu: (1) terdapat interaksi antara siswa yang satu dengan siswa lainnya dalam satu kelompok sesuai dengan gaya belajarnya di mana anggota-anggota kelompok tersebut terikat pada pokok pembicaraan tertentu; (2) setiap siswa dalam satu kelompok memiliki tujuan bersama yang jelas, sehingga pada saat pembelajaran berlangsung tidak terjadi disintegrasi; (3) sifat kepemimpinan dalam hal ini tidak harus selalu terpusat pada diri satu siswa ke siswa lainnya, pada saat siswa yang satu berbicara, maka dialah pemimpin pembicaraan di dalam kelompok tersebut. Dengan demikian setiap siswa mempunyai kesempatan yang sama dalam mengemukakan berbagai ide, gagasan, inspirasi, maupun ketidakcocokan atau kekurangjelasan terhadap materi pembelajaran yang sedang berlangsung; (4) setiap siswa terikat norma yang telah disepakati bersama dan harus ditati oleh setiap anggota kelompok. Ketaatan kelompok pada norma yang dibuat bersama akan mebuat pembelajaran menjadi lebih kohesif dan efisien; (5) setiap siswa di dalam kelompok akan mengalami cetusan-cetusan emosional tertentu diantaranya rasa bosan, kecewa, senang, kesal, tertarik, merasa ditolak, merasa bangga, diterima, semuanya dapat terjadi jika setiap siswa aktif dalam proses pembelajaran. Untuk membina perasaan-perasaan positip, setiap siswa harus mengakui kehadiran sesamanya. Untuk itu guru berfungsi sebagai fasilitator harus menetralisir keadaan dan menstabilkan emosi siswa.